TASK 2

BITTER FATE
By                   : LEENABOSE
Published        : On July 8, 2019
Excerpt: They walked away to their platform where they slept every day with their clan. That night Kanji had a lot of dream.
TAKDIR YANG PAHIT
Dari                 : LEENABOSE
Diterbitkan      : Pada 8 Juli 2019
Kutipan: Mereka pergi ke panggung mereka dimana mereka tidur setiap hari dengan suku mereka. Malam itu Kanji memiliki banyak mimpi.

“Pick the leaf, it has more food”
“Ambil daun itu, itu mempunyai banyak makanan”
“I got one”
“Aku mendapatkannya satu”
“Wow! There is a sweet in this leaf”
“Wow! Ada satu yang manis pada daun ini”
A group of rag pickers were digging the trashcan outside a marriage hall. This is a typical scene which can be seen outside every marriage hall in India.
Sekelompok pemetik kain sedang menggali tempat sampah di luar aula pernikahan. Ini adalah pemandangan khas yang bisa dilihat di luar setiap pernikahan di India
“Wow! Sinji look at that lady, she has so many gold ornaments all over her body. How I wish I had so much”
“Wow! Sinji lihat wanita itu, dia memounyai banyak ornament emas sekujur tubuhnya. Betapa berharapnya aku punya begitu banyak”
“Kanji, those people have so much of wealth, but they are never happy like us.”
“Kanji, orang-orang itu mempunyai banyak kekayaan, tetapi mereka tidak pernah bahagia seperti kita”
“Like us? Look at us, we beg for good and eat from garbage trash, look at her she eats in cool room and goes in a car”
“Seperti kita? Lihat kita, kita meminta derma dan makan dari tempat sampah, lihat dia makan di ruangan yang dingin dan pergi menggunakan mobil”
“Kanji, she might be going by car and eating the richest food on earth, but in the night,  she will not sleep happily like us, nor will she snore like you ha ha”
“Kanji, dia mungkin pergi dengan mobil dan makan makanan yang paling mahal di dunia ini, tapi pada malam hari, dia tidak akan tidur dengan bahagia seperti kita, tidak juga akan dia mendengkur seperti kamu haha”
“Snore!! I never snore. How I wish I were like her”
“Mendengkur!! Aku tidak pernah mendengkur. Betapa aku berharap aku sepertinya”
And they walked away to their platform where they slept every day with other people of their clan. That night Kanji has a lot of dreams.
Dan mereka pergi ke panggung mereka dimana mereka tidur setiap hari dengan orang-orang lainnya yang dari klan mereka. Pada malam itu Kanji mempunyai banyak mimpi.

Next day had a lot of surprise waiting for Kanji. They walked on the road looking out for dustbins for their breakfast. They spotted one outside a huge bungalow. They sat and relished the food. Suddenly a fat man, dressed in white dress walked out the house, and he watched Kanji for some time and drove away. After some time, a tall man came out of the house and called them both inside. What the man said was like a dream come true. He said that the man who was dressed in white was a film director and that he liked Kanji a lot, and that she would suit very much for his character, in his current project. He had asked his assistant to bring her to the shooting spot, if she was interested.
Esok harinya ada banyak kejutan yang menunggu Kanji. Mereka pergi ke jalan melihat ke tempat sampah untuk sarapan mereka. Mereka melihat satu diluar bungalow yang besar. Mereka duduk dan menikmati makanan. Tiba-tiba seorang laki-laki yang gemuk, berpakaian baju putih dan pergi keluar rumah, dan dia melihat Kanji beberapa waktu dan mengusirnya. Setelah beberapa waktu, seorang laki-laki yang tinggi keluar rumah dan memanggil mereka berdua kedalam. Apa yang dikatakan oleh laki-laki itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan. dia berkata bahwa laki-laki yang berpakaian putih itu adalah seorang director film dan dia banyak melihat Kanji, dan dia akan sangat cocok dengan karakternya, di projeknya yang baru-baru ini. Dia telah meminta asistennya untuk membawanya ke tempat akting, jika dia tertarik.

Sinji could see the excitement in her eyes and so he never opposed to that offer, while Kanji was more than willing to take it up. The assistant gave her good clothes and wear and took her in an AC car to the studio.
Sinji akan melihat kegembiraan di matanta dan juga dia tidak pernah menantang tawaran itu, ketika Kanji lebih dari bersedia untuk mengambilnya. Asisten itu memberinya pakaian yang bagus dan memakai dan membawanya kedalam mobil yang ada AC nya ke studio.
There they met the man in white dress,
Disana mereka bertemu dengan laki-laki berbaju putih
“What is your name?”
“Siapa namamu?”
“Kanji sir”
“Kanji pak”
“What sort of name is that?”
“Betapa pendeknya nama itu”
“That’s my goddess’ name sir” and she smiled.
“Itu nama dari dewi saya pak” dan dia tersenyum.
“From today your name is Kanchana, I will make you a star, but you need to do all that I say. Will you?” She needed her head like a goat which was just about to be butchered. From that day her life changed.
“Dari hari ini nama kamu adalah Kachana. Aku akan membuatmu menjadi seorang bintang, tapi kamu perlu melakukan semua yang aku katakana, mau kan?” Dia membutuhkan kepalanya seperti seekor kambing yang baru saja akan menjadi tukang jagal.

In few months, she bought a new house and a car. While Sinji just remained with her and didn’t enjoy that life. He heard many things about her. That she has slept with the director to sign up for the relationship with a hero. But he never believed all that, he trusted her so much.
Pada beberapa bulan, dia membeli sebuah rumah baru dan sebuah mobil. Ketika Sinji hanya mengingatkannya dan tidak menikmati hidupnya. Dia mendengar banyak hal tentangnta. Bahwa dia sudah tidur dengan direktur itu untuk mendaftar hubungan dengan pahlawan.

Until one day when her photograph with one of the movie hero was published in all the newspaper. Sinji was wild with fury that day he took the newspaper to the watchman and asked him to read it. “Sir” he scratched his head as if he hesitated to read news. “It says that Kanchana madam has an affair with this hero and that she is going to marry him.”
Hingga suatu hari ketika fotonya dengan salah satu pahlawan film diterbitkan di semua surat kabar. Sinji sangat marah pada hari itu. Ia membawa koran itu kepada panjaga dan memintanya untuk membacanya. “Pak” dia menggaruk kepalanya seolah dia ragu untuk membaca berita. “Dikatakan bahwa madam Kanchana berselingkuh dengan pahlawan ini dan dia akan menikahinya.”

Sinji waited for Kanji to come home. It was too late when she returned from shoot that day.
Sinji menunggu Kanji untuk pulang. Itu sangat terlambat ketika dia kembali dari bermain peran hari itu.
“Kanji”
“Kanji”
“Sinji, I am very tired please let me sleep”
“Sinji, aku sangat lelah tolong biarkan aku tidur”
“You have to answer this” and he threw the newspaper at her.
“Kamu harus menjawab ini” dan dia melempar surat kabar itu kepadanya.
“Do you believe this? I am a star, people will take this, you can’t believe everything” and they fought for a long time.
“Apakah kamu percaya ini? Aku seorang bintang, orang-orang akan melakukan ini, kamu tidak bisa percaya segalanya” dan mereka bertengkar untuk waktu yang lama.
Next morning Sinji was not found in the house. He went back to the platform. Though Kanji tried to convince him he never came back home. “This is the limit I won’t beg you anymore” and she left him on the platform. She became busy with her life. Sinji heard lots about Kanji every day. The newspaper even described her to be prostitute in the film industry.
Esok paginya SInji tidak ditemukan di rumahnya. Dia pergi kembali ke panggung itu. Meskipun Kanji berusaha meyakinkan dia tak pernah kembali ke rumah. “Ini adalah batas yang aku tidak akan memohon padamu lagi” dan dia meninggalkannya di platform. Dia menjadi sibuk dengan hidupnya. Sinji mendengar banyak tentang Kanji setiap hari. Koran-koran bahkan menggambarkan dia sebagai pelacur di Industri film.

One day Sinji sat outside a marriage hall with his clan and picked up the leaves to find food. He saw Kanji walk out of the marriage hall she was dressed in gold from head to toe, in fact more that the lady whom they saw few days before. She sat in an AC car and drove.
Suatu hari Sinji duduk diluar gedung pernikahan dengan kalnnya dan mengambil daun-daun untuk menemukan makanan. Dia melihat Kanji berjalan keluar gedung pernikahan dia mengenakan pakaian dalam emas dari kepala hingga kaki, pada kenyataanya lebih dari perempuan yang mereka lihat beberapa hari sebelumnya. Dia duduk di dalam mobil yang ber-AC dan melaju.

As she drove, she saw Sinji, she peeped out of the window. That night she could not sleep… and that was not the only night.
Saat dia mengemudi, dia melihat Sinji, dia mengintip keluar jendela. Malam itu dia tidak bisa tidur… dan itu bukan satu-satunya malam.

-END-

-SELESAI-

Komentar