TASK 6
CERITA
MISTIS “BUKU ANTIK”
MYSTICAL
STORY “ANTIQUE BOOK”
Halo namaku Andi. Saya adalah seorang pelajar yang
menyukai pelajaran dan senang membaca buku. Karena hobi membaca buku ini saya
akhirnya menemukan pengalaman aneh. Ini menjadi sebuah cerita mistis yang
menyelimuti otakku sampai sekarang.
Hello, my name is Andi, I’m a student who likes studying and
likes reading a book. Because my hobby is reading book. Finally, I find a
strange experience. It becomes the mystical story that covered my brain until
now.
Waktu itu saya berniat membeli buku baru. Saya
mendatangi sebuah took buku di pinggiran kota. Toko tersebut sangat tua.
Ternyata disitu juga menjual buku antik. Sang penjual itu seorang kakek-kakek
yang kelihatannya berumur antara 65-70 tahun. Ada sebuah buku yang menarik
perhatian saya. Buku ini lumayan besar dengan ketebalan 700-1000 halaman.
Warnanya keemasan dan juga ada fungsi pengunci, membuat saya sangat berminat.
Akhirnya saya memutuskan membeli buku tersebut.
At that time, I intended to buy a new book. I went to a book
store in the suburbs. The shop is very old. Apparently there also sold antique
book. The seller was a grandfather who seemed to be between 65-70 years old.
There was a book that caught my attention. This book was quite large with a
thickness of 700-1000 pages. The color was golden and there was also a locking
function, which made me very interested. Finally, I decided to buy the book.
Buku itu kelihatan mewah dan antic. Keesokan harinya
saya membawa ke sekolah. Teman-teman pada penasaran dengan buku tersebut. Rola
juga menghampiri, “ini bukumu?”, “ya”, jawabku. Dia meminjam buku. Keesokan
harinya ketika mengembalikan buku, rola mengatakan dia mengalami mimpi buruk.
Dia didatangi oleh roh jahat.
The book looked fancy and antique. The next day, I brought to
school. My friends were curious about the book. Rola also came up, “Is this
your book?”, “Yes”, I replied. She borrowed the book. The next day when
returning the book, Rola said that she had a bad dream. She was visited by an
evil spirit.
Saya tidak yakin ini ada hubungannya dengan buku. Saya
pun membawa pulang buku antikku.
I was not sure this had relation with the book. I brought home
my antique book.
Jam 12 malam saya terbangun.
At 12 midnight, I woke up.
Buku tersebut dalam keadaan terbuka. Seingat saya,
saya sudah mengunci tadi di sekolah. Akhirnya saya memutuskan menutup buku dan
menguncinya kembali. Lalu kembali ke Kasur.
The book was open. As I recalled, I locked it at school.
Finally, I decided to close the book and lock it again. Then go back to the
mattress.
Keesokan siang hari, setelah saya pulang dari sekolah
saya kembali melihat buku itu terbuka kembali. Kali ini tidak hanya terbuka,
buku itu ada noda darah. Saya tidak tahu apakah sudah ada dari dulu atau
sebelumnya. Halaman yang sedang terbuka adalah halaman 666. Saya mulai merasa
tidak enak. Tetapi saya tidak terlalu memikirnya.
The next afternoon, after I went to home, I saw again and the
book was open again. This time it’s not only open, the book has blood stains. I
did not know whether it was from the past or before. The page that currently
open was page 666. I began to feel bad. But I did not think it too much.
Pukul 12 tengah
malam. Dan saya kembali terbangun lagi. Seorang wanita bergaun putih di era
tahun 30an berdiri di depan buku kunoitu. Saya mengumpulkan segenap keberanian
dan menghardik siapa itu.
At 12 midnight. And I woke up again. A white dressed woman in
the era of the 30s stood in front of the ancient book. I gathered all my
courage and rebuked who it was.
Sosok itu
membalasku. Dia berjalan mendekati buku itu. “Du wirst sterben,” bisik dia.
That figure replied to me. He walked over to the book. “Du wirst
sterben” she whispered.
Dia berbahasa
asing sepertinya bahasa jerman. Sambil tetap membelakangiku menatap buku yang
saya letakkan di meja belajarku, dia lanjut, “Nich wieder lange.”
She spoke foreign language like Germany. Whike still backing me
staring at the book I put on my study desk, she continued, “Nich wieder lange.”
Tiba-tiba dia
menoleh ke arahku. Wajahnya hancur. Tidak terlihat mata, hanya dua lubang
sebagai gantinya. Dia langsung menuju ke arahku! Saya buru-buru mengambil
barang yang kebetulan ada di kasurku dan melempar ke arahnya. Tetapi percuma.
Dia berjalan dan kami hanya terpaut beberapa centimeter, dan saya akhirnya pun
tidak sadar lagi apa yang terjadi selanjutnya.
Suddenly, she turned to me. Her face was broken. Invisicle eyes,
only two holes instead. She headed straight at me! I hurriedly took the thing
that happened to be on my bed and threw it at him. But it’s useless. She walked
and we were only a few centimeters away, and I was finally unaware of what
happened next.
Keesokan harinya saya siuman di rumah sakit. Ibu coba
membangunkan aku, tetapi tidak bisa sehingga saya buru-buru dibawa ke rumah
sakit. Tetapi dokter tidak menemukan penyebab pasti.dia mengatakan mungkin saya
kecapean. Karena tidak mengatakan mungkin saya kecapean. Karena tidak ada yang
abnormal di tubuhku. Dokter pun membolehkan saya pulang.
The next day, I regained consciousness at the hospital. Mother
tried to wake me up, but I couldn’t, so I was rushed to the hospital. But the
doctor did not find the exact cause. He said maybe I was tired. Because I
didn’t say maybe I was tired. Because there is nothing abnormal in my body. The
doctor also let me go home.
Sesampai di rumah saya pun buru-buru ke kamarku dan
melihat buku antik yang masih ada di mejaku itu. Saya langsung membawanya ke
perkarangan rumah. Tidak lupa mengambil minyak tanah, menyiramkan buku antik
itu. Terakhir menyalakan korek api dan membakar buku terkutuk itu. Terdengar
suara mengerikan yang muncul dari kobaran api. Saya bergidik. Namun saya tidak
peduli.
When I got home, I rushed to my room and saw the antique book
that was still on my desk. I immediately took him to the house yard. Don’t
forget to take kerosene, splash the antique book. Finally lit a match and
burned the damned book. There was a terrible sound that emerged from the
flames. I shudder. But I don’t care.
Suara yang muncul itu bukan suara berasal dari dunia
ini. Saya tidak mampu mendeskripsikannya. Tetapi saya yakin membakar buku ini
akan menyelesaikan gangguan yang dialamiku. Biarlah kamu kembali ke alammu
sana! Batinku dalam hati.
The sound that appeared was not a voice coming this world. I was
unable to describe it. but I was sure that burning this book would solve the
disturbance I experienced. Let you return to your realm there! I thought to
myself.
Saya pun berjalan masuk ke rumah kembali namun
tiba-tiba… “Ich werde kommen,” bisik suara ditelingaku.
Komentar
Posting Komentar